MTI: Testimoni Antasari Skenario Hancurkan KPK

Selasa, 04 Agustus 2009
Didit Tri Kertapati - detikNews

Jakarta - Testimoni Antasari Azhar tentang pejabat KPK yang menerima suap menuai kecaman dari penggiat antikorupsi. Testimoni ini dianggap sebagai skenario untuk menghancurkan KPK.

"Ini rekayasa untuk menghancurkan KPK," ujar Ketua Badan Pengurus Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI), Hamid Chalid, dalam perbincangan dengan detikcom , Rabu (5/8/2009).

Menurut Hamid, sejak awal dipilihnya Antasari sebagai Ketua KPK sudah ada keraguan dari sejumlah pihak. Hal didasari atas rekam jejak karier Antasari sebagi jaksa yang tidak bersih.

"Orang ini dipasang untuk menghancurkan KPK dan terbukti apa yang dilakukannya sekarang ini," kata Hamid.

Hamid menerangkan, pertemuan yang dilakukan Antasari dengan pimpinan PT Masaro Anggoro Widjaja, yang telah jadi tersangka, di Singapura adalah tindakan melanggar hukum. Karena pejabat KPK dilarang bertemu dengan pihak luar yang tengah terkena kasus di KPK.

"Sebelum orang lain kena, dia dulu orangnya yang harus kena. Karena itu kan jelas melanggar hukum," tandas Hamid.

Hamid menyarankan polisi mengusut kebenaran dari testimoni Antasari, meskipun Hamid yakin bahwa testimoni itu tidak benar.

Hamid juga menyatakan, mengapa baru sekarang Antasari merilis testimoni itu jelas menimbulkan pertanyaan. Ini mengindikasikan Antasari tidak ingin hanya dia sendiri yang terjerat masalah hukum.

"Istilah orang Jawa, mati siji mati kabeh (mati satu, mati semua). Dia nggak mau cuma dia yang kena tapi semua orang yang kena," tuding Hamid. (ddt/nrl)


Sumber ; detik.com

Mosi Tidak Percaya - Efek Rumah Kaca



Sumber: thejonasclip

ini masalah kuasa, alibimu berharga
kalau kami tak percaya, lantas kau mau apa?

kamu tak berubah, selalu mencari celah
lalu smakin parah, tak ada jalan tengah

pantas kalau kami marah, kamu dipercaya susah
lantas kalau kami resah, sebab argumenmu payah

kamu ciderai janji, luka belum terobati
kami tak mau diberi, kami tak bisa dibeli

janjimu pelan pelan akan menelanmu

ini mosi tidak percaya, jangan anggap kami tak berdaya
ini mosi tidak percaya, kami tak mau lagi diperdaya

Siaga dalam Diam

Senin, 03 Agustus 2009
GESEKAN antara kepolisian dan Komisi Pemberantasan Korupsi belum sepenuhnya reda. Jika diibaratkan reptil, cicak atau buaya, keduanya kini menghentikan rayapannya. Diam, merunduk, tapi dalam posisi siaga. Inilah hari-hari penting yang membuat mata masyarakat menyorot kepada kedua lembaga itu.

4 MEI 2009
Ketua KPK Antasari Azhar diperiksa dan kemudian ditahan di Polda Metro Jaya. Antasari menjadi tersangka otak pembunuhan Direktur Utama Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen. Dalam pemeriksaan disebutkan, Antasari membuka ”borok” sejumlah pimpinan KPK.

24 JUNI 2009
Saat berkunjung ke harian Kompas, Presiden SBY mengingatkan kedudukan KPK yang menjadi seperti superbody. Menurut Presiden, KPK sudah merupakan power holder yang luar biasa.

24 JUNI 2009
Kepala BPKP Didi Widayadi menyatakan bahwa pihaknya akan mengaudit KPK. Pernyataan Didi ini menimbulkan kontroversi. Presiden menyatakan tidak pernah memerintahkan BPKP mengaudit KPK.

30 JUNI 2009
Kepala Bareskrim Markas Besar Polri, Komisaris Besar Susno Duadji, menyatakan ada lembaga yang telah sewenang-wenang menyadap telepon genggamnya.

2 JULI 2009
KPK menggelar konferensi pers. Wakil Ketua KPK Bibit Samad Rianto menyatakan, jika ada yang tak jelas soal penyadapan, diminta untuk datang ke KPK. ”KPK hanya menyadap pihak yang terindikasi korupsi,” kata Bibit.

2 JULI 2009
Dalam wawancaranya dengan wartawan majalah Tempo, Susno Duadji menampik tuduhan yang menyebut dia meminta imbalan dalam kasus yang terkait dengan uang Boedi Sampoerna di Bank Century. Ia menyebut ada orang ”goblok”. ”Sesuatu yang tidak mungkin bisa ia kerjakan, tapi dicari-cari, ” kata Susno. ”Jika dibandingkan, ibaratnya, di sini buaya, di situ cicak.”

12 JULI 2009
Puluhan orang, termasuk bekas Ketua KPK Taufiequrrahman Ruki, mendeklarasikan gerakan Cintai Indonesia Cinta KPK (Cicak) di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat. Cicak menyatakan mendukung KPK demi kelanjutan perang terhadap korupsi. Aktivis antikorupsi di sejumlah daerah kemudian juga mendeklarasikan gerakan Cicak.

13 JULI 2009
Presiden SBY menggelar rapat koordinasi yang antara lain dihadiri pimpinan KPK, kepala kepolisian, dan Jaksa Agung. Presiden menyatakan tak ada satu pun niat lembaga negara untuk menggagalkan pemberantasan korupsi. ”Tidak perlu ada gesekan antarlembaga hukum,” kata Presiden.

15 JULI 2009
Beredar kabar santer bahwa kepolisian akan menangkap beberapa pimpinan KPK, antara lain Chandra Hamzah dan Mochammad Jasin, karena tersangkut kasus PT Masaro. Ketegangan terjadi di kantor KPK. Sejumlah aktivis antikorupsi, seperti Todung Mulya Lubis dan Teten Masduki, berdatangan ke kantor KPK.


Yang Menjadi Sorotan

Komisaris Jenderal Polisi Susno Duadji (55 tahun)

Sebelum menduduki kursi Kepala Badan Reserse dan Kriminal, Susno menjabat Kepala Kepolisian Jawa Barat. Susno menggantikan Bambang Hendarso Danuri, yang ditunjuk sebagai Kepala Kepolisian RI. Ia pernah bertugas sebagai Kapolres Maluku Utara, Kapolres Madiun, dan Kapolresta Malang. Dikenal pribadi yang kerap berbicara blakblakan, pernyataan Susno bahwa teleponnya disadap sebuah lembaga mengundang reaksi KPK. Kendati tidak menyebut nama, orang menduga yang dimaksud Susno tak lain KPK.

Mochammad Jasin (51 tahun)

Sebelum terpilih menjadi pimpinan KPK, Jasin adalah Direktur Penelitian dan Pengembangan KPK. Dikenal pribadi yang berhati-hati jika bicara, Jasin mengawali kariernya sebagai staf Departemen Perindustrian. Sebelum masuk KPK, ia menjabat Kepala Biro Perencanaan Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara. Polisi disebut-sebut memiliki rekaman pengakuan Anggoro Wijoyo, Direktur PT Masaro Radikom, yang menyatakan telah memberikan uang kepada Jasin. Tentang hal ini, kepada koleganya, Jasin bersumpah tidak pernah menerima uang dari Anggoro.


Sumber: Majalah Tempo (3-9 Agustus 2009)

Awas Koruptor! Ada Cicak

Minggu, 02 Agustus 2009
Minggu, 02 Agustus 2009 23:47 WIB

Aksi deklarasi gerakan CICAK Yogyakarta yang sempat tertunda akhirnya terlaksana. Deklarasi yang seyogyanya dilaksanakan pada 26 Juli lalu belum bisa terlaksana karena terkendala masalah teknis dan menunggu momen yang tepat untuk deklarasi. CICAK (Cinta Indonesia Cinta KPK) merupakan gerakan yang bertujuan untuk mendukung upaya KPK dalam memberantas korupsi.

Pada hari Ahad (02/08) tepat pukul 09.30 deklarasi CICAK dapat dilaksanakan di Monumen Serangan Umum 1 Maret Jl. Malioboro. CICAK dideklarasikan oleh Pusat Kajian Anti (PuKAT) Korupsi Fakultas Hukum UGM Yogyakarta dan bekerjasama dengan Aliansi organisasi kampus baik internal, eksternal dan eleman organisasi masa yang ada di Yogyakarta. Deklarasi ini sedianya dilaksakan pada 26 Juli lalu, namun karena ada permasalahan teknis dan mencari waktu yang tepat untuk deklarasi menjadi alasan kenapa akhirnya pelaksanaan deklarasi ini molor.

Pelaksanaan deklarasi yang bertetapatan dengan hari libur tidak mengurangi semangat juang massa aksi. “Miskipun acara deklarasi ini sempat tertunda tidak mengurangi kemerihaan dan semagat kami untuk mendukung upaya KPK dalam memberantas korupsi di negri ini,” ujar Danang ketua Kordinasi deklarasi CICAK. Ketika ditanya mengenahi sempat tertundanya deklarasi CICAK ini Danang mengatakan. “Kemarin itu hanya kendala teknis saja dan kemudian kita juga mencari waktu dan momen yang tepat untuk deklarasi CICAK ini,” ucap danang kepada LAPMI. “Sekaranglah waktu yang pas untuk deklarasi CICAK Yogyakarta.” katanya.

Sebelum melakukan deklarasi, para massa aksi gerakan CICAK ini mendatangi Poltabes Yogyakarta untuk meminta dukungan dan melakukan triatrikal di depan halaman Poltabes Yogyakarta dan disambut dengan senang hati oleh pejabat di sana. Sebelum meninggalkan Poltabes, massa gerakan CICAK ini memberikan kaca kayu sebagai simbol supaya polisi berkaca dalam pemberantasan korupsi.

Puji Hartoyo perwakilan dari HMI-MPO Cabang Yogyakarta dalam orasinya mengatakan. “Upaya pemberantasan korupsi harus dilakukan tanpa terkecuali. Dalam hal ini semua lembaga berkomitmen untuk melakukan upaya pemberantasan korupsi. KPK memiliki peran dalam hal ini maka kita semua harus mendukung,” ujar Puji Hartoyo dalam orasinya didepan masa aksi. “Adanya upaya pelemahan dan pemandulan peran utama KPK dalam memberantas korupsi di Indonesia sangat disayangkan. Dalam hal ini polisi harus ikut berperan serta bukan malah melemahkan KPK.” ucap Puji Hartoyo diakhir orasinya.

Sementara itu Ketua LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Budi Santoso menegaskan pentingnya keberadaan KPK. ”KPK merupakan lembaga yang efektif dalam pemberantasan korupsi di negri ini. Kita wujudkan perjuangan membantu KPK.” katanya. Nampak hadir pula dalam deklarasi ini Maksun (PWNU), Sahlan Said (Mantan Aktifis Korupsi Yogyakarta) dan Hasrul Halimi (UGM).

Aliansi yang terlibat dalam deklarasi CICAK Yogyakarta antaralain: PuKat Korupsi FH UGM, Forum LSM DIY, ICM, IMM Cab. BKSM Sleman, HMI Cab. Bulaksumur, PMII Cab. Sleman, HMI MPO Cab. Yogyakarta, KAMMI DIY, BEM Seluruh Indonesia (BEM SI), BEM FEB UGM, DEMA Justicial FH UGM, Gunungkidul Corruption Watch (GCW), Sampang Corruption Watch (SCW), KAPMEPI DIY, Indonesia Youth Parlement (IYP), Ma’arif Institute Sleman, PPSDMS Nurul Fikri, Stube Hemat, DPD IMM DIY, LEM FH UII, BEM FH UMY, dll.Ismail

sumber : HMINEWS